- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta – Perkembangan Islam di Indonesia tak bisa dilepaskan dari dakwah yang dilakukan oleh wali songo yang sukses mengislamkan nusantara dengan cara-cara damai melalui akulturasi kebudayaan. Sampai sekarang, strategi dakwah ini digunakan oleh Nahdlatul Ulama dengan penghargaan terhadap tradisi lokal.
Rais 'Aam Idarah Aliyah Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, perjuangan Wali Songo yang terjadi pada 500 tahun yang lalu dan diteruskan oleh para ulama salafus shalihin membuat kita tertantang dan terdorong untuk minimal mempertahankan ajaran yang telah dibawanya berupa akidah ahlussunnah waljamaah (Aswaja).
"Perjuangan para ulama Wali Songo yang terjadi pada 500 tahun yang lalu membuat kita para ulama dan habaib agar tetap mempertahankan ajaran Aswaja di tanah air ini," ujarnya, Selasa (2/7/2019) malam.
Habib Luthfi bin Yahya perjuangan para Wali Songo di bumi pertiwi, khususnya di tanah Jawa sungguh sangat luar biasa. Karena berkat perjuangan Wali Songo, Islam di Jawa khususnya berkembang dengan pesat dan diteruskan oleh para ulama.
Pendakwah kondang KH Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq) juga membenarkan bahwa penyebaran Islam ke Nusantara tidak terlepas dari peran para Walisongo sebagai aktor peletak Islam. Namun, seiring berkembangnya zaman banyak orang yang membuat definis baru soal dakwah Walisongo, sehingga mereka hanya dianggap sebagai legenda.
Gus Muwafiq berpendapat, hanya beberapa orang yang bisa mendefinisikan peran dan perjuangan Walisongo dalam menyebarkan Agama Islam sehingga hal tersebut dianggap rumit akhirnya banyak orang mendefinisikan sendiri.
"Banyak orang tidak bisa mendefinisikan wali karena terminologinya sedemikian sulit. Maka akhirnya ada yang membuat definisi baru dengan terminologi baru," tegas kiai berambut gondrong itu, Rabu (31/03/2021)
Gus Muwafiq menjelaskan dampak negatif dari penjelasan tersebut adalah munculnya pemahaman bahwa Walisongo hanya dongeng belaka bahkan semua kisah dan perjuanganya dianggap fiktif. Selain itu Gus Muwafiq menganggap ada kesalahan sejarah apabila pembawa Agama Islam ke Nusantara adalah para saudagar.
"Salah satu contohnya adalah bahwa wali itu bukan bagian dari penyebar Islam tapi penyebar Islam adalah saudagar sehingga Walisongo itu terancam fiktif sehingga sebagian orang menganggap Walisongo itu tidak ada," ungkap kiai asal Lamongan itu.
Menurutnya apabila Walisongo itu tidak ada dan yang menyebarkan Agama Islam adalah para saudagar maka umat Islam tidak akan banyak seperti sekarang ini. Alasannya karena agama Hindu memiliki struktur sosial yang kental yaitu soal kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Brahmana yaitu kelompok yang berhak membicarakan agama. ementara para pedagang atau saudagar menempati kasta ke tiga yaitu Sudra. Oleh karena itu sangat tidak mungkin apabila kelompok sudra bisa membicarakan agama, sebab orang Hindu tidak menerima diajari agama oleh Sudra.
"Dalam pikiran saya yang di Islamkan adalah orang Hindu. Orang Hindu itu punya spesifikasi yang unik karena punya kasta, kasta yang tertinggi adalah kasta Brahmana yang berbicara soal agama. Sementara para saudagar itu menempati kasta ketiga. Jadi saudagar itu sekaya apa pun ia tetap sSudra dan Sudra tidak boleh ngomong agama. Makanya menjadi sangat aneh apabila kalau penyebar Islam itu saudagar karena orang hindu tidak mau kalau diajari sudra," lanjut Gus Muwafiq.
Lebih lanjut, Gus Muwafiq berpesan kepada para mahasiswa untuk terus melanjutkan perjuangan Walisongo dalam menyebarkan Agama Islam yang damai, santun dan menyejukkan. Karena akhir-akhir ini banyak pemahaman yang menjauhkan dengan amalan Islam yang rahmatan lil alamin. Oleh karena itu demi menghidupkan sejarah ia berpesan untuk sering berziarah kepada Walisongo.
Sementara Choirul Anam dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan NU mengatakan, gerakan para kiai Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) mendirikan organisasi merupakan lanjutan dari gerakan-gerakan para kiai sebelumnya.
“(NU) kelanjutan dari gerakan Wali Songo dan ulama penyebar Islam lainnya. Selama ratusan tahun, sambung-menyambung, para ulama bergerak mempertahankan Islam di Nusantara,” katanya dalam buku itu.
Karena keadaan terus berubah, tantangannya pun berbeda, cara para kiai Aswaja bergerak dalam mempertahankan dan menyebarkan Islam pun berubah juga. Jika sebelumnya hanya melalui pesantren dan tidak bergerak sendiri-sendiri, para kiai mencoba dengan mendirikan organisasi. Ini hanyalah persoalan cara, tapi intinya adalah mempertahankan Islam itu sendiri. Buktinya, pesantren dipertahankan, organisasi dijalankan.