- 12 Maret 2026
NAHDLIYIN.COM, Jakarta -- Di hadapan KH Said Aqil Siradj yang merupakan Mustasyar PBNU sekaligus mantan Ketua Umum PBNU, Pendakwah muda nahdliyin Agus Muhammad Iqdam Kholid atau yang akrab disapa Gus Iqdam bercerita tentang viralnya sebuah istilah "Dekengane Pusat" yang berarti dukungannya pusat.
Cerita tersebut disampaikan pada acara Lailatul Ijtima Spesial Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah yang disiarkan di kanal youtube NU Channel, Selasa (01/07/2023) malam.
Dalam pemaparannya, Gus Iqdam menjelaskan bahwa Istilah "Dekengane Pusat" tidak terkonsep atau direncanakan namun sebuah spontanitas saat memberikan kajian.
Saat mengampu Majelis Ta’lim Sabilut Taubah yang dihadiri oleh ribuan jamaah, Gus Iqdam sedang menerangkan fadilah atau keutamaan shalat qabliyah shubuh. "Shalat qabliyah shubuh itu kan fadilahnya banyak sekali itu termasuk bisa menyembuhkan penyakit, termasuk bisa menaikkan derajat," jelasnya pada tayangan YouTube NU Channel diakses NU Online, Kamis (3/8/2023).
Dalam kesempatan tersebut hadir para pejabat yang identik dengan orang-orang pusat yang mengikuti pengajian. "Saya bilang (ke jamaah), dekenganmu tidak perlu pejabat kamu mau melakukan salat sunnah atau shalat qabliyah atau salat rawatib apapun itu, dekenganmu pusat," ungkapnya.
Yang dimaksud pusat menurut Gus Iqdam adalah Allah swt yang memiliki kekuasaan paling tinggi dan mengatur segala yang ada di dunia ini. Sehingga manusia yang tetap istiqamah beribadah akan senantiasa didukung dan dilindungi oleh Allah swt dan hidup dalam kenyamanan.
Selain “Dekengane Pusat” beberapa istilah lainnya yang digunakan oleh Gus Iqdam juga viral di antaranya kata-kata “ST Nyell” dan “Wonge Teko”. “ST nyell” adalah singkatan dari Sabilu Taubah (ST) yang ditambah dengan kata “nyell” yang dalam bahasa Jawa berarti total. Sehingga istilah ST Nyell diartikan sebagai Sabilu Taubah semua.
Sementara istilah ‘Wonge Teko’ (orangnya datang?)adalah kalimat pertanyaan yang dilemparkan Gus Iqdam ketika memberikan contoh seseorang dalam materi pengajiannya. Di antaranya yang diungkapkan dalam salah satu video pengajiannya.
“Tidak seperti hidupmu yang hanya mencari pasangan hidup. Bertahun-tahun memiliki hubungan dengan anak orang, tapi yang naik ke pelaminan orang lain. cintamu ditolak karena hidupmu ruwet. Iki wonge yo teko? (Ini orangnya ya datang?).
Dalam kesempatan itu pula, Gus Iqdam menyampaikan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama (NU) itu enak.
"Yang jelas di NU itu enak, berangkat ngaji atau tidak tetap mendapatkan doa, pasti didoakan, ngih toch. Habis sholatpun pasti juga didoakan, tidak tau kalau selain NU" ujarnya.
Gus Iqdam banyak digandrungi mulai dari kaum santri, marginal bahkan sampai seorang kriminal ini juga menyampaikan di NU matipun juga didoakan, bahkan orang yang semasa hidupnya masih buruk jika mati ya dimandikan, ya ada yang ngopene, ngeramut.
"Jadi kalau semasa hidupnya belum baik ya tenang saja, yang penting panjenengan NU, insya Allah keramut sampai mati dan terus mendapatkan doa," dawuhnya.
Tidak hanya itu, beliau juga berharap untuk berhati-hati memilih mengajian, guru dan ustadz. "Alhamdulillah di NU diedentik dengan sanad keilmuan, saya ini tidak pintar, tidak alim, karena saya pernah mondok di Al Falah Ploso, keilmuan saya agak jelas,"
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II di Desa Karanggayam, Kabupaten Blitar itu berharap NU bisa tumbuh besar di kota besara seperti Jakarta dan semua Nahdliyin bisa menjadi pelopor kerukunan, perdamaian dan menebar agama yang rahmatan lil'alamin, agama yang tenang semua orang bisa masuk.
Hadir dalam acara Lailatul Ijtima kali ini di antaranya KH Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar (Gus Kautsar) dari Pesantren Al Falah Ploso, Kediri. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang. Ustad Yusuf Mansur, dan Menteri Menaker Ibu Ida Fauziyah.